Selasa, Agustus 11, 2009

IMAN

I M A N

Jalan kehidupan yang berbeda dan seribu satu ragam persoalan akan selalu menjadi bagian kehidupan setiap umat manusia.Nasib yang selalu datang silih berganti antara susah dan senang merupakan qodrat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.Supaya setiap manusia tidak goyah menghadapi setiap ragam persoalan tersebut, maka manusia perlu dibentengi oleh keimanan yang kuat sebagai pegangan dalam hidupnya.Diterangkan dalam Surat Ibrahim, ayat 24-27: "Tidakkah kamu lihat bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat thaiyibah) bagai pohon yang baik, akarnyamencengkeram kuat, dan cabangnya menjulang tinggi? Pohon itu menghasilkan buah pada setiap musim, dengan izin Tuhan. Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk (kalimat syirik, dan lain sebagainya) seperti pohon yang buruk yang tercabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi. Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan ucapan yang baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat, dan membiarkan sesat orang-orang yang zalim serta berbuat apa yang Dia kehendaki."
Dari ayat tersebut, jelaslah bahwa kondisi dan fungsi orang beriman bagai pohon yang besar. yakni:
1. Berdiri tegak dan kuat, tidak terombang-ambing oleh angin. Maksudnya, tidak mudah terpengaruh situasi, dan tidak plin-plan.
2. Menjadi tempat berteduh. Maksudnya, memberikan perlindungan kepada sesama manusia yang membutuhkannya.
3. Buahnya bisa dinikmati oleh orang lain. Maksudnya, perilakunya selalu menyenangkan dan menguntungkan sesama manusia.

A. Rukun Iman
Apakah iman itu? Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menerangkan: "lman itu adalah engkau percaya kepada(Rukun lman yang enam) yakni:
1) Percaya adanya Allah SWT
2) Percaya adanya Malaikat-malaikatNya
3) Percaya adanya Kitab-kitabNya
4) Percaya adanya Rasul-rasulNya
5) Percaya akan ada Hari kemudian, dan
6) Percaya terhadap Takdir yang digariskan oleh Allah SWT
Ditegaskan dalam Al Qur'an surat An-Nisa ayat 136: "...Barangsiapa mengingkari Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasulrasulNya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya ia telah sesat sejauh-jauhnya."

1. Iman Kepada Allah SWT.
Umat Islam wajib mempercayai sepenuhnya tentang adanya Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa, pencipta dan penguasa tunggal alam semesta, pemilik segala keagungan dan kesempurnaan.
Apa buktinya bahwa Tuhan itu Maha Esa? Untuk menjawab pertanyaan ini para ulama kalam mengetengahkan dalil yang dinamai dalil "tolak belakang" - dalam istilah aslinya disebut dalil "At-Tamanu'''. Yakni apabila ada beberapa Tuhan (andaikansaja ada dua Tuhan), pasti akan terjadi bentrokan antar keduanya.Dan bisa dipastikan, masing-masing Tuhan ingin mengalahkan Tuhan yang lain. Akibatnya, apabila Tuhan yang satu, misalnya, berkehendak menciptakan alam semesta,sedangkan yang lain tidak, apa yang bakal terjadi? Bencana!
Timbul pertanyaan: apakah tidak mungkin kedua Tuhan itu berdamai dan bekerja sama dalam mewujudkan alam?
Pertanyaan tersebut dijawab oleh Maturidi, seorang ulama kalam terkenal, bahwa kalau di antara Tuhan-Tuhan itu terjadi perdamaian kemudian kerjasama mewujudkan alam, hal itu menunjukkan betapa lemah dan betapa bodohnya Tuhan-Tuhan tersebut. Berarti juga, mereka tidak berbeda dengan manusia yang saling kerja sama untuk mewujudkan suatu bangunan.
Dampak positif dari iman kepada Allah SWT dalam kehidupan manusia, menurut seorang pemikir Islam terkemuka dari Pakistan, Abul A'la Maududi adalah:
1. Menghilangkan pandangan yang sempit dan picik.
2. Menanamkan kepereayaan terhadap diri sendiri dan tahu pada harga diri.
3. Menumbuhkan sifat rendah hati, sikap damai, dan ikhlas
4. Membentuk manusia berbudi luhur, dan kesatria
5. Menghilangkan sifat murung dan putus asa dalam menghadapi setiap masalah.
6. Berpendirian teguh, sabar, tabah, dan penuh optimis.
7. Menjadikan manusia patuh pada segala peraturan Tuhan.

2. Iman Kepada Malaikat-malaikatNya
Allah memiliki mahluk gaib yang selalu bersujud dan bertasbih kepada-Nya sepanjang waktu, tanpa mengenal lelah, yaknipara malaikat. Mereka juga taat dan setia menjalankan segala tugas dari Allah SWT. Ditegaskan oleh Allah Swt.dalam Al Qur'an surat An-Nahl ayat 50 "Mereka (para malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan."

3. Iman Kepada Kitab-kitab Allah SWT
Allah Swt mewahyukan ajaran-Nya kepada para Nabi dan Rasul melalui perantaraan Malaikat Jibril yang terkenal dengan sebutan Ruhul Qudus. Wahyu-wahyu dari Allah SwT, kemudian dihimpun dalam bentuk suhuf (semacam brosur-brosur kecil) dan kitab, Nabi yang mempunyai suhuf, antara lain Nabi Adam as. dan Nabi Syis.
Sedangkan Nabi/Rasul yang mempunyai kitab ialah Nabi Musa as. (kitabnya bernama Taurat), Nabi Daud as.(Zabur), Nabi Isa as. (Injil) dan Nabi Muhammad saw. (Al-Quran).
Sebagai orang yang beriman kepada Allah SwT, kita wajib percaya sepenuhnya bahwa suhuf-suhuf dan kitab-kitab tersebut benar-benar himpunan firman Allah SwT, bukan karangan para Nabi itu sendiri.
4. Percaya kepada Rasul-Rasul Allah SWT
Untuk membimbing umat manusia ke dalam ajaran yang benar, Allah SWT menetapkan manusia-manusia pilihan sebagai utusanNya. Mereka adalah Nabi dan Rasul. Firman Allah SWT dalam Al Qur'an surat Saba' ayat 28 : "Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkankepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."
Jumlah nabi dan rasul yang perlu diketahui oleh urmat Islam ada 25 orang - mulai dari Nabi Adam as. sampai Nabi terakhir Muhammad saw. Mereka wajib kita percayai sebagai utusan Allah SWT.

5. Iman Kepada Hari Kiamat.
Kita haruslah percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, sedangkan kehidupan yang kekal adalah di alam akhirat kelak. Nah sebagai tanda perpindahan kehidupan umat manusia dari alam dunia ke alam akhirat Allah menetapkan adanya hari kiamat yaitu hari berakhirnya kehidupan di dunia. Kapankah hari kiamat tiba ? Hanya Allah sendiri yang mengetahui.Rasulullah saw. sendiri hanya mengetahui tanda-tanda menjelang kedatangan hari kiamat. Yang jelas, pada hari kiamat segala sesuatu yang ada di alam semesta ini hancur binasa,setelah itu para mahluk hidup yang telah mati dibangkitkan dari kuburnya untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya selama hidup di dunia.
Firman Allah SwT.: "Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan dibumi kecuali siapa yang dikehendaki oleh Allah SWT. Kemudian ditiup sangkakala sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)."

6. Iman Kepada Qadha dan Qadar
Kita wajib percaya sepenuhnya bahwa dalam menciptakan umat manusia, Allah SWT menetapkan sekaligus usia, rejeki dan jodoh untuk manusia. Dengan demikian segala sesuatu yang baik atau yang buruk datangnya dari Allah SWT. "Katakanlah (hai Muhammad), semua itu datangnya dari Allah."(Q.S. An-Nisa: 78):
Akan tetapi Allah SWT sendiri mendorong manusia untuk tidak menyerah begitu saja kepada takdir. Firman Allah:"Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka mengubah diri mereka sendiri."

B. Karakter Orang yang Beriman
Sampai saat ini masih banyak umat Islam yang beriman baru sampai pada tahap pengenalan. Sebatas percaya pada Rukun Iman yang enam.Hanya mengikrarkan dengan lisan dan meyakini dalam hati. Padahal iman juga memerlukan penghayatan dan pengamalan.Mengapa?
Sebab iman merupakan kepercayaan yang mutlak, meliputi ikrar secara lisan, keyakinan dalam hati, dan pengamalan dalam kehidupansehari-hari. Sudah barang tentu iman yang demikian ini menuntut konsekuensi, perjuangan, dan pengorbanan.Dengan demikian, tebal-tipisnya kadar iman seseorang bisa dilihat dari sepak terjangnya dalam kehidupan sehari-hari. Yakni sejauh mana orang tersebut mematuhi segenap perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-Nya. Sepak terjang seseorang yang mencerminkan kesempurnaan imannya adalah apabila ia mampu mempraktekkan seluruh cabang iman dalam kehidupannya sehari-hari.

C. Hubungan Iman dan Islam
Pada hakikatnya iman dan Islam merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Abul A'la Maududi menulis dalam bukunya, Towards Understanding Islam, ha124:"The relation for Islam to iman is the same as of a tree to its seed. As a tree cannot sprout forth without its seed, in the same ways's is not possible for a man, who has no belief to start with, to become a Muslim." (Hubungan antara Islam dengan Iman adalah laksana hubungan antara pohon dengan akarnya. Sebagaima"na pohon tidak dapat tumbuh tanpa akarnya. Demikian pula, mustahil seseorang bisa menjadi Muslim tanpa memiliki kepercayaan).Prof. Mahmud Syaltut, mantan rektor AI-Azhar,Mesir dalam bukunya Al Islam, Aqiedah wa Syariah hal.13 memberikan perumpamaan, bahwa Islam seperti bangunan suatu gedung,sedangkan iman adalah pondasinya. Ia katakan: "Islam ialah pokok yang tumbuh di atas peraturan-peraturan syari'ah (Islam).Syari'ah itu ditumbuhkan oleh kepercayaan. Dengan demikian tidaklah terdapat syariah dalam Islam melainkan dengan adanya kepercayaan, seperti syari'ah itu tidak mungkin berkembang melainkan dibawah naungan kepercayaan. Kesimpulannya, syariah tanpa kepercayaan adalah laksana bangunan yang tinggi tanpa pondasi/dasar." Dari kedua pendapat di atas, jelaslah bahwa iman merupakan masalah yang mendasar dalam Islam. Hal ini bisa kita simak dalam sejarah kemunculan Islam,bahwa Rasulullah saw.selalu memulai kegiatan dakwahnya dengan menanamkan soal keimanan/kepercayaan. Ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan di Mekah,sebelum Nabi saw. hijrah ke Madinah,hampir seluruhnya berkaitan dengan soal kepercayaan.
Meskipun begitu iman yang ada di dalam diri seorang hamba itu bisa bertambah dan bisa pula berkurang atau bahkan hilang tanpa bekas dari diri seseorang. Al-Imam Abdurrahman bin Amr Al-Auza'i rahimahullah pernah ditanya tentang keimanan, apakah bisa bertambah. Beliau menjawab: "Betul (bertambah), sampai seperti gunung." Lalu beliau ditanya lagi: "Apakah bisa berkurang?" Beliau menjawab: "Ya, sampai tidak tersisa sedikitpun."
Demikian pula Imam Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya tentang keimanan, apakah bisa bertambah dan berkurang? Beliau menjawab: "Iman bertambah sampai puncak langit yang tujuh dan berkurang sampai kerak bumi yang tujuh." Beliau juga menyatakan: "Iman itu (terdiri atas) ucapan dan amalan, bisa bertambah dan berkurang. Apabila engkau mengamalkan kebajikan, maka iman akan bertambah, dan apabila engkau menyia-nyiakannya, maka iman pun akan berkurang."
Nah, inilah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah itu, yakni meyakini bahwa sesungguhnya iman seseorang itu bisa bertambah dan bisa pula berkurang. Setelah kita tahu bahwa ternyata iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang, lalu apa yang harus dilakukan oleh seorang mukmin untuk menjaga kualitas imannya? Al Imam Allamah Abdurrahman bin Nashr As Sa'di rahimahullah mengatakan: "Seorang mukmin yang diberi taufiq oleh Allah Ta'ala, dia senantiasa berusaha melakukan dua hal: Pertama, memurnikan keimanan dan cabang-cabangnya, dengan cara mengilmui dan mengamalkannya. Kedua, berusaha untuk menolak atau membentengi diri dari bentuk-bentuk ujian (cobaan) yang tampak maupun tersembunyi yang dapat menafikannya (menghilangkannya), membatalkannya atau mengikis keimanannya itu." (At Taudhih wal Bayan lisy Syajarotil Iman, hal 38).
Saudaraku muslimin, ketahuilah! Ada beberapa amalan yang insya Allah akan dapat menyebabkan bertambahnya iman seseorang, di antaranya adalah:
Pertama: Membaca dan tadabbur (merenungkan atau memikirkan isi kandungan) Al Quranul Karim. Orang yang membaca, mentadabburi dan memperhatikan isi kandungan Al Quran akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang menjadikan imannya kuat dan bertambah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan tentang orang-orang mukmin yang berbuat demikian: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati-hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah iman bereka, dan kepada Rabb mereka itulah mereka bertawakkal." (QS. Al Anfal [8]: 2)
Al Imam Al Ajurri rahimahullah berkata: "Barangsiapa mentadabburi Al Quran, dia akan mengenal Rabb-nya Azza wa Jalla dan mengetahui keagungan, kekuasaan dan qudrah-Nya serta ibadah yang diwajibkan atasnya. Maka dia senantiasa melakukan setiap kewajiban dan menjauhi segala sesuatu yang tidak disukai maulanya (yakni Allah Ta'ala)."
Kedua: Mengenal Al Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah yang menunjukkan kesempurnaan Allah secara mutlak dari berbagai segi. Bila seorang hamba mengenal Rabbnya dengan pengetahuan yang hakiki, kemudian selamat dari jalan orang-orang yang menyimpang, sungguh ia telah diberi taufiq dalam mendapatkan tambahan iman. Karena seorang hamba bila mengenal Allah dengan jalan yang benar, dia termasuk orang yang paling kuat imannya dan ketaatannya, kuat takutnya dan muroqobahnya kepada Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah ulama." (QS. Fathir [35]: 28). Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan: "Sesungguhnya hamba yang benar-benar takut kepada Allah adalah ulama yang mengenal Allah." (Tafsir Ibnu Katsir 3/533).
Ketiga: Memperhatikan siroh atau perjalanan hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yakni dengan mengamati, memperhatikan dan mempelajari siroh beliau dan sifat-sifatnya yang baik serta perangainya yang mulia.
Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan: "Dari sini kalian mengetahui sangat pentingnya hamba untuk mengenal Rasul dan apa yang dibawanya, dan membenarkan pada apa yang beliau kabarkan serta mentaati apa yang beliau perintahkan. Karena tidak ada jalan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan di akhirat kecuali dengan tuntunannya. Tidak ada jalan untuk mengetahui baik dan buruk secara mendetail kecuali darinya.Maka kalau seseorang memperhatikan sifat dan akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Al Quran dan Al Hadits, niscaya dia akan mendapatkan manfaat dengannya, yakni ketaatannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi kuat, dan bertambah cintanya kepada beliau. Itu adalah tanda bertambahnya keimanan yang mewariskan mutaba'ah dan amalan sholih."
Keempat: Mempraktekkan (mengamalkan) kebaikan-kebaikan agama Islam. Ketahuilah, sesungguhnya ajaran Islam itu semuanya baik, paling benar aqidahnya, paling terpuji akhlaknya, paling adil hukum-hukumnya. Dari pandangan inilah Allah menghiasi keimanan di hati seorang hamba dan membuatnya cinta kepada keimanan, sebagaimana Allah memenuhi cinta-Nya kepada pilihan-Nya, yakni Nabiyullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (lihat QS. Al Hujurat [49]: 7)
Maka iman di hati seorang hamba adalah sesuatu yang sangat dicintai dan yang paling indah. Oleh karena itu seorang hamba akan merasakan manisnya iman yang ada di hatinya, sehingga dia akan menghiasi hatinya dengan pokok-pokok dan hakikat-hakikat keimanan, dan menghiasi anggota badannya dengan amal-amal nyata (amal sholih). (At Taudhih wal Bayan, hal 32-33)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar